Oleh : dr. Tri Rejeki Herdiana – Sebagaimana
disebutkan pada artikel Fisiologi Menstruasi sebelumnya, Siklus menstruasi normal dapat dibagi menjadi 2 segmen yaitu, siklus ovarium
(indung telur) dan siklus uterus (rahim). Siklus indung telur terbagi
lagi menjadi 2 bagian, yaitu siklus folikular dan siklus luteal,
sedangkan siklus uterus dibagi menjadi masa proliferasi (pertumbuhan)
dan masa sekresi.

Sistem hormonal yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah:

  1. FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH
  2. LH-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan LH
  3. PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk mengeluarkan prolaktin

Pada setiap siklus menstruasi, FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis
merangsang perkembangan folikel-folikel di dalam ovarium (indung telur).
Pada umumnya hanya 1 folikel yang terangsang namun dapat perkembangan
dapat menjadi lebih dari 1, dan folikel tersebut berkembang menjadi
folikel de graaf yang membuat estrogen.

Estrogen ini menekan produksi FSH, sehingga hipofisis mengeluarkan
hormon yang kedua yaitu LH. Produksi hormon LH maupun FSH berada di
bawah pengaruh releasing hormones yang disalurkan hipotalamus ke
hipofisis.

Penyaluran RH dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap
hipotalamus. Produksi hormon gonadotropin (FSH dan LH) yang baik akan
menyebabkan pematangan dari folikel de graaf yang mengandung estrogen.

Estrogen mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah pengaruh
LH, folikel de graaf menjadi matang sampai terjadi ovulasi. Setelah
ovulasi terjadi, dibentuklah korpus rubrum yang akan menjadi korpus
luteum, di bawah pengaruh hormon LH dan LTH (luteotrophic hormones,
suatu hormon gonadotropik).

Korpus luteum menghasilkan progesteron yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada pembuahan maka korpus
luteum berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan
progesteron. Penurunan kadar hormon ini menyebabkan degenerasi,
perdarahan, dan pelepasan dari endometrium. Proses ini disebut haid atau
menstruasi. Apabila terdapat pembuahan dalam masa ovulasi, maka korpus
luteum tersebut dipertahankan.

Pada tiap siklus dikenal 3 masa utama yaitu:

  1. Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Pada saat itu
    endometrium (selaput rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan dan
    hormon-hormon ovarium berada dalam kadar paling rendah
  2. Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari
    ke-14. Setelah menstruasi berakhir, dimulailah fase proliferasi dimana
    terjadi pertumbuhan dari desidua fungsionalis untuk mempersiapkan rahim
    untuk perlekatan janin. Pada fase ini endometrium tumbuh kembali. Antara
    hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi pelepasan sel telur dari indung
    telur (disebut ovulasi)
  3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya
    ovulasi. Hormon progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi pertumbuhan
    endometrium untuk membuat kondisi rahim siap untuk implantasi
    (perlekatan janin ke rahim)

Siklus ovarium :

  1. Fase folikular. Pada fase ini hormon reproduksi bekerja
    mematangkan sel telur yang berasal dari 1 folikel kemudian matang pada
    pertengahan siklus dan siap untuk proses ovulasi (pengeluaran sel telur
    dari indung telur). Waktu rata-rata fase folikular pada manusia berkisar
    10-14 hari, dan variabilitasnya mempengaruhi panjang siklus menstruasi
    keseluruhan
  2. Fase luteal. Fase luteal adalah fase dari ovulasi hingga menstruasi dengan jangka waktu rata-rata 14 hari

Siklus hormonal dan hubungannya dengan siklus ovarium serta uterus di dalam siklus menstruasi normal:

  1. Setiap permulaan siklus menstruasi, kadar hormon gonadotropin
    (FSH, LH) berada pada level yang rendah dan sudah menurun sejak akhir
    dari fase luteal siklus sebelumnya
  2. Hormon FSH dari hipotalamus perlahan mengalami peningkatan
    setelah akhir dari korpus luteum dan pertumbuhan folikel dimulai pada
    fase folikular. Hal ini merupakan pemicu untuk pertumbuhan lapisan
    endometrium
  3. Peningkatan level estrogen menyebabkan feedback negatif pada
    pengeluaran FSH hipofisis. Hormon LH kemudian menurun sebagai akibat
    dari peningkatan level estradiol, tetapi pada akhir dari fase folikular
    level hormon LH meningkat drastis (respon bifasik)
  4. Pada akhir fase folikular, hormon FSH merangsang reseptor
    (penerima) hormon LH yang terdapat pada sel granulosa, dan dengan
    rangsangan dari hormon LH, keluarlah hormon progesteron
  5. Setelah perangsangan oleh hormon estrogen, hipofisis LH terpicu
    yang menyebabkan terjadinya ovulasi yang muncul 24-36 jam kemudian.
    Ovulasi adalah penanda fase transisi dari fase proliferasi ke sekresi,
    dari folikular ke luteal
  6. Kedar estrogen menurun pada awal fase luteal dari sesaat sebelum
    ovulasi sampai fase pertengahan, dan kemudian meningkat kembali karena
    sekresi dari korpus luteum
  7. Progesteron meningkat setelah ovulasi dan dapat merupakan penanda bahwa sudah terjadi ovulasi
  8. Kedua hormon estrogen dan progesteron meningkat selama masa
    hidup korpus luteum dan kemuadian menurun untuk mempersiapkan siklus
    berikutnya.

sumber: klikdokter(dot)com



Original source : Proses Terjadinya Menstruasi serta Hormon yang Berpengaruh Saat Haid